Minggu, 16 September 2018

Rihlah Ilmiah MWC NU dan LAZISNU Kudus

MWC NU seKabupaten Kudus Ngangsu Kaweruh Manajemen ke MWC NU Ngasem Bojongoro

Suara NU Kudus--
NU sering mendapat julukan sebagai organisasi yang tradisional ketimbang dilihat sebagai organisasi yang professional. Pasalnya, belum ada manajemen yang bagus. Menghadapi persoalan tersebut para petinggi MWC di Kabupaten Kudus merasa dicambuk dan menyadari akan kekurangannya. Oleh karena mereka bersepakat untuk berbenah diri.

Dengan LAZISNU sebagai inisiator sekaligus motivator mereka bershilaturrahim ke MWC NU Ngasem Bojonegoro Jawa Timur yang dalam enam tahun berjalan telah berhasil mengelola berbagai usaha dengan aset sekitar Rp 40 M yang semula hanya bermodal Rp 60 juta lebih sedikit di awal usahanya.
Tujuan utama shilaturrahim jam'iyyah ini untuk menimba ilmu di bidang manajemen organisasi dan usahanya.

"Kami mengelola MWC NU Ngasem ini dengan sistem manajemen sebagaimana yang belaku di BMT atau perusahaan lain. Kami mengangkat seorang Manajer plus beberapa staf", tegas SekretarisWC NU Ngasem, K.H. Wahyudi. Setelah memaparkan manajemen organisasi NU dan BMT di MWCnya Tokoh Muda NU yang jenius dan kreatif ini memotivasi para tamunya "Ternyata NU itu kaya jika dikelola demgan seksama. Lakukanlah dengan ikhlas dan penuh pengabdian".

Halaqah singkat yang diinisiasi oleh Direktur NU-Care / LAZISNU Kudus sekaligus Ketua MWC NU Bae Kudus, Ustadz Sya'roni Suyanto ini berjalan dengan lancar dan penuh makna. Setelah dibuka kesempatan diskusi halaqah ilmiah ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Syuriyah MWC Bae/ Rais Syuriyah Ranting Ngembalrejo, H. Mahlail Syakur Sf., M.Ag. --(MS2F)

Perkenalan dan Pelantikan HMJ HES FAI Unwahas

PENYAMBUTAN MAHASISWA BARU DAN PETANTIKAN HMJ MUAMALAT

Semarang, Radar Muamalat (RAMA)- Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum Ekonomi Syari'ah (HES)/ Mu'amalat mengadakan penyambutan "Selamat datang" kepada mahasiswa baru kemarin (15/9/18). Kegiatan yang diberi tajuk "Bersatu dalam perbedaan bersama menuju HES/ Mu'amalat hebat" ini digelar di masjid Unwahas Nurul Ulum.

Kegiatan yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. H. Nur Cholid, M.Pd., Ketua Jurusan HES/ Mu'amalat H. Iman Fadhilah, M.S.I., para dosen, dan segenap undangan dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FAI ini bertujuan untuk menyambut dan memperkenalkan mumalat mulai dari dosen hingga aktivitas keseharian dalam prodi muamalat, baik yang bersifat akademis maupun non akademis.

Momen ini dimanfaatkan oleh pengurus HMJ HES/ Mu'amalat sebagai ajang shilaturrahim dan pelantikan pengurus HMJ Program Studi HES tahun kepengurusan 2018-2019.

Panitia berharap dengan tajuk “Bersatu dalam perbedaan bersama menuju muamalat hebat” ini mahasiswa baru Program Studi HES/ Mu'amalat bisa merasakan kehangatan keluarga HES/ Mu'amalat dan nantinya bisa menumbuhkan kebersamaan dan rasa solidaritas antar mahasiswa.

 “Seorang pemimpin organisasi itu harus pinter, kober (berarti loyal dalam bahasa Indonesia) dan bener, yang diharapkan natinya bisa membawa Program Studi HES/ Mu'amalat menjadi lebih baik lagi”. Jelas Dekan Fakultas Agama Isalam dalam sambutannya. Sementara itu Ketua Prodi HES/ Mu'amalat menyatakan: “Fungsi HMJ adalah sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan minat mereka”. Dan Ketua HMJ terlantik, Atok Khurrohman mengucapkan terimakasih atas kepercayaan dan dukungan rekan-rekan dalam menjalankan program kerja atau pun agenda yang telah disusun sesuai dengan tujuan dalam periode satu tahun ke depan. -
. --(MS2F)

Jumat, 14 September 2018

World Clean Up Day di Unwahas

UNWAHAS dalam World Clean Up Day 2018

Semarang-BBKudus
Civitas Akademika Universitas Wahid menyambut Hari Giat Bersih Dunia (World Clean Up Day) dengan melakukan bersih-bersih lingkungan kampus 1 di Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan dan sekitarnya.
Kegiatan yang dimulai sejak jam 06.30 ini diikuti oleh ribuan mahasiswa Unwahas dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Farmasi, Fakultas Agama Islam, dan Fakultas Hukum, serta Program Pascasarjana, dan masyarakat sekitar termasuk Civitas Akademika STIE Semarang dan para siswa SMK LPI Semarang.

Hadir dalam kegiatan Aksi Gotong-Royong terbesar Sedunia di Kampus Aswaja Berkarakter Mulia ini Kepala Kelurahan Sampangan, Bapak Supono dan seluruh perangkatnya.

Kegiatan Aksi Gotong-Royong se-Dunia yang digerakkan dengan mengusung tema "Membudayakan Peduli Lingkungan" ini memperoleh apressiasi positif dari masyarakat Semarang.

"Kami selaku warga Semarang yang kebetulan tinggal di Kelurahan Sampangan menyampaikan terimakasih dan apressiasi yang setinggi-tingginya atas kegiatan yang dimotori oleh Universitas Wahid Hasyim Semarang ini. Kegiatan ini tentu menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia terutama warga Semarang dan khususnya lagi bagi wong Sampangan untuk meningkatkan kepedulian sosial, baik di bidang kebersihan maupun bidang-bidang lainnya". Demikian kata Kepala Kelurahan Sampangan ketika dimintai tanggapan mengenai gerakan sosial ini.

"Kebersihan atau bersih-bersih merupakan tradisi ummat Islam sekaligus bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan diharapkan menjadi budaya bagi semua elemen masyarakat termasuk Civitas Akadrmika Universitas Wahid Hasyim Semarang. Begitu pula budaya gotong-royong hendaklah menjadi aspek sosial yang menjadi kepedulian sosial yang mebudaya di masyarakat kampus", kata Rektor Unwahas, Bapak Prof. Dr. H. Mahmutarom HR., S.H., M.H. dalam sambutannya mengawali kegiatan ini.

"Kebersihan dan gotong-royong merupakan bentuk ekspressi keimanan seseorang dalam bernasyarakat. ... Kami mengacapkan selamat ber-Hari Aksi Gotong-Royong se-Dunia --World Clean Up Day-- 2018", tambahnya mengakhiri sambutan.

-->(Syakur@unwahas.ac.id)

Senin, 03 September 2018

Puisi Ruchman Basori - Asian Games 2018

ASIAN GAMES USAI SUDAH
oleh Ruchman Basori

Dunia dibikin tertegun
Publik Asia berdecak kagum
Rakyat kita saling tersenyum
Saksikan pembukaan yang berdentum

Aku saksikan para atlit bercucuran
Tangis bahagia iringi kemenangan
Berlatih keras hingga di gelanggang
Maju berjuang kalahkan lawan

Sepuluh besar target harapan
16 medali emas ke pangkuan
Berjibun rakyat mendoakan
31 medali emas bukti kejayaan
Terbalas sudah bertahun impian

Dengan Asian Games kita bersatu
Semua komponen bangsa bahu-membahu
Lupakan benci dan dendam membatu
Martabat bangsa dijunjung selalu

Indonesia Raya terus berkumandang
Mengiringi senyum kemenangan
Para atlit gigih berjuang
Nama baik bangsa dipertaruhkan

Dari tribun terlihat nyata
Para atlit terbata-bata
Dilayar tivi tersenyum gembira
Sekeping medali ditangannya
Inilah kemenangan kita semua

Pencak silat olahraga leluhur
Mengantarkan bangsa ini mujur
Terlihat dua pemimpin bangsa akur
Dibawah merah putih yang termasyhur

Asian Games usailah sudah
Menjadi meomentum yang bersejarah
Anak bangsa berharap berkah
Dari Jakarta ke China berpindah

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Jakarta, 3 Agustus 2018
Ruchman Basori

Jumat, 31 Agustus 2018

Ibnu Muljam Sang Pembela Islam

Mewaspadai Ibnu Muljam di Zaman Now
Oleh Mahlail Syakur Sf.

Ibnu Muljam, Berlagak Pembela Islam tapi Mengkafirkan Pemimpin Pemerintahan.

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Teriakan itu menggema ketika Abdurrahman bin Muljam al-Muradi menebas leher sahabat Ali bin Abi Thalib kw. Subuh 21 Ramadlan itu duka menyelimuti hati kaum muslimin. Nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rasul Allah saw.  menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang saudara sesama muslim. Sayyiduna Ali kw. terbunuh atas nama hukum Allah dan demi surga yang entah kelak akan menjadi milik siapa.

Tidak berhenti sampai disana, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti merapal Surat Al Baqarah ayat 207:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
(Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya).

Sebagai hukuman atas aksinya mencabut nyawa seorang Pemimpin Pemerintahan, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishash. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh drama. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada Algojo:
“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami Sayyidah Fathimah ra., sepupu Rasul Allah, dan ayah dari Hasan dan Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Faktor yang mempengaruhi Radikalisme Ibnu Muljam: Perbedaan Pandangan Politik

Ibnu Muljam merupakan salah satu pendukung Ali bin Abi Thalib kw. Bahkan ia juga pernah berperang bersama Ali dalam perang Jamal melawan Aisyah, serta ia juga pergi ke Kufah untuk mengikuti perang Siffin antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah.
Namun saat perang siffin berakhir, dan disepakati arbitrase antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Muljam menyatakan ketidak setujuannya. Ia berpendapat, dengan mengutip al-Qur'an, bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah tidak sesuai dengan tuntunan al-Quran dan Rasul Saw.

Sehingga dengan perbedaan pandangan politiknya, Ibnu Muljam keluar dari barisan para pendukung Ali bin Abi Thalib dan memilih untuk menjadi bagian dari kelompok Khawarij. Jargon terkenal khawarij “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) ia gunakan untuk menolak kebijakan Ali yang tunduk kepada arbiterase.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern.

Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.
Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang shalih, zahid dan bertakwa dan mendapat julukan Al-Maqri’. Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang huffadz alias penghafal Alquran dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.
Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
“Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Alquran kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafa allquran, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim rangka membela ajaran Allah dan Rasul Allah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yag menyuarakan khilafah dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.
Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi. Mereka senantiasa membaca al-Qur'an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi.

Rasul Allah saw. dalam sebuah hadits telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:
"Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca al-Qur'an. Di mana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca al-Qur'an dan mereka menyangka bahwa al-Qur'an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata al-Quran itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya". (Hadits riwayat Muslim)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin. Wahai kaum Muslimin dan Nahdliyyin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam.
Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru.
Islam itu agama rahmah lil-'alamin. Islam itu agama keselamatan.
Islam itu merangkul, dan bukan memukul.

Semoga kita dan keluarga kita senantiasa dilindungi oleh Allah dan dijauhkan dari sifat dan perilaku Ibnu Muljam.

Ihdinas shirathal mustaqim …. (ms2f)

Damai itu Indah - Hikmah bersikap Arif

Ke-Arif-an itu Penting
Oleh Mahlail Syakur Sf.

KENAPA Murid Ini Menjawab 3 x7 = 21,
Tapi Malah Dihukum Cambuk 10 Kali, Alasan Sang Guru Sangat Mengharukan

Siapa Yang Benar?
Alkisah, hidup seorang guru yang sangat dihormati karena tegas & jujur.
Suatu hari, dua muridnya menghadapnya. Mereka bertengkar hebat di depannya dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7.

Murid pandai mengatakan hasilnya adalah 21, sementara Murid bodoh bersikukuh pada hasilnya, yaitu 27.

Murid bodoh pun menantang murid pandai supaya gurunya menilai siapa yang benar di antara mereka.
Murid yang bodoh mengatakan:
“Jika saya yang benar 3 x 7= 27, maka kamu harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri. Haaaaaa … ha haa..” Demikian si Bodoh menantang dengan sangat yakin akan pendapatnya.

“Katakan guru, mana yang benar?” Tanya murid bodoh.

Ternyata guru memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai (yang menjawab 21).

Murid pandai protes … tetapi gurunya menjawab:
“Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tetapi untuk ketidak-arifanmu karena berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu bahwa 3×7 adalah 21.”

Guru melanjutkan :
“Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif daripada guru harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia”.

Pesan Moral :
- Hindari berdebat dengan orang yang tidak menguasai permasalahan, dan ilmu, sebab bila mental kita masih lemah maka hanya emosi dan permusuhan yang didapat.

- Berdebat/ bertengkar untuk sesuatu yang tidak perlu diperebutkan kebenarannya hanya akan menguras energi percuma.

- Ada saatnya kita diam untuk menghindari/ mengakhiri perdebatan yang tidak perlu.

- Diam bukan berarti kalah, Menang juga bukan hal yang luar biasa apalagi menang lawan orang bodoh.

- Pemenang sejati adalah orang yang mampu menaklukkan egonya sendiri*.

Damai itu indah …
Setiap orang mendambakan kedamaian hidup.

Sebelum berdamai dengan orang lain,
Sebaiknya berdamailah dulu dengan diri sendiri.

DAMAI + RUKUN = SANGAT INDAH
 😊😊
Selamat !
Semangat Belajar Bijak.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Para Ahli Hadits - Syakur

AHLI HADITS 
Dari Masa Shahabat hingga Tabi'in
oleh Mahlail Syakur Sf.
e-mail: syakur@unwahas.ac.id




Ahli Hadits dalam studi ilmu hadits dikenal dengan istilah muhaddits (محدّث). Perjalanan hadits cukup panjang dan membutuhkan transformasi yang handal. Mereka para muhadditsun itulah yang berperan memegang peran penting dalam estafeta riwayat hadits.

Dalam Konteks transformasi hadits Rasul Allah saw. telah memberikan banyak motivasi, yaitu antara lain sebagai berikut:
بلغوا عني ولو اية (رواه البخاريّ
(Sampaikan apa saja yang datang dari walaupun hanya satu ayat)

Atau oleh haditsnya:
ألا ، ليبلّغ الشاهد منكم الغائب  (رواه ابن عبد البرّ عن أبي بكرة ) 
(Perhatian! Hendaklah orang yang mengetahui (hadits) menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir (pada periwayatan hadits) HR. ibn Abdil Bar dari Abu Bakrah
Atau termotivasi oleh sabdanya berikut ini:
ليبلغ الشاهد منكم الغائب فرب مبلغ أوعى من سامع
(Hendaklah orang yang mengetahui hadits menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir pada periwayatan hadits. Barangkali orang yang menyampaikan hadits lebih baik daripada orang yang (hanya) mendengarnya)
Dari generasi Shahabat Rasul Allah saw.  ditemui banyak figur yang dinilai paling banyak meriwayatkan hadits. Di antara mereka adalah:
1. Sayyiduna Abu Hurairah ra. yang memiliki dan meriwayatkan 5374 hadits;
2. 
Sayyiduna Ibnu Umar ra. dengan 2630 hadits; 
3. Sayyiduna Anas bin Malik ra. dengan 2286 hadits; 
4. Sayyidatuna Aisyah Ummul Mukminin ra. dengan 2210 hadits; 
5. Sayyiduna Ibnu ‘Abbas ra. dengan 1660 hadits; 
6. Sayyiduna Jabir bin ‘Abdullah ra. yang meriwayatkan 1540 hadits. 

Sebagian Shahabat Rasul Allah saw. telah melakukan pembukuan hadits. di antaranya adalah:
1. Abdullah bin Amr bin Al-Ash (7-65 H.) yang diberi judul As-Shahifah As-Shadiqah
2. Abdullah bin Abbas (3-68 H.)
3. Jabir bin Abdillah Al-Anshari (16-78 H.) dengan judul  As-Shahifah.
4. Hamam bin Munabbih (40-131 H.) dengan judul As-Shahifah As-Shahihah

Pada era Tabi'in muncul gerakan pembukuan hadits secara spektakular hingga mengispirasi banyak ahli hadits. Gerakan ini dipelopori oleh Umar bin Abdul Aziz. 
Perintah Umar bin Abdul Aziz untuk memulai pembukuan dan pelembagaan hadist secara resmi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz inilah yang memelopori pembukuan dan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. secara resmi. Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Perintah Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut: 

Perhatikanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu tulislah dia, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dan wafatnya para ‘ulama , dan janganlah diterima kecuali hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” ( Bukhari (1/33) dan Ad-Daarimi (1/126))
Dan Ibnu Hazm selanjutnya menunjuk ulama besar yaitu Ibnu Syihab Az-Zuhri untuk melakukan pelembagaan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdua merupakan thabaqat awal pembukuan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Hazm pulalah yang memulai dan mencetuskan ilmu Riwayatul hadits. Yakni suatu ilmu tentang meriwayatkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. perbuatan-perbuatannya, taqrir-taqrirnya dan sifat-sifatnya. Ilmu ini sifatnya lebih tertuju pada mengumpulkan hadits-hadits saja, tanpa memeriksa secara detail sah atau tidaknya yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Faedah-faedah Ilmu riwayatul hadits antara lain :
1. Supaya kita dapat membedakan mana yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mana yang disandarkan kepada selain beliau.
2. Agar supaya hadits tidak beredar dari mulut ke mulut atau dari satu tulisan ke tulisan lain tanpa sanad.
3. Agar dapat diketahui jumlah hadits yang orang sandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
4. Agar dapat diperiksa sanad dan matannya sah atau tidak.
Nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang mu’tabar dari generasi Tabi’in antara lain :
1. Said Ibnul Musayyab (15-94H)
2. Urwah bin Zubair (22-94H)
3. Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (Wafat th.117H)
4. Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri (50-124H)
5. Imam Nafi’ (wafat 117H)
6. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah (Wafat 98H)
7. Salim bin Abdullah bin Umar (Wafat 106H)
8. Ibrahim bin Yazid An-Nakha’I (46-96H)
9. Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi (19-103H)
10. Alqamah bin Qais An-Nakha’i (28-62H)
11. Muhammad bin Sirrin (33-110H)
12. Ibnu Juraij Abdul Aziz bin Juraij (Wafat 150H)
13. Said bin ‘Arubah (Wafat 156H)
14. Al Auza’i (Wafat 156H)
15. Sufyan At-Tsauri (Wafat 161H)
16. Abdullah bin Mubaarak (118-181H)
17. Hammad bin Salamah (Wafat 176H)
18. Husyaim (Wafat 188H)

ِAdapun nama-nama ‘ulama pencatat atau perawi hadits yang terkenal (mu’tabar) dari generasi Tabi’ut Tabi’in antara lain:
1. Imam al-Bukhari (194-256H) Kitab : Al-Jaami’ush Shahih atau Shahih Bukhari
2. Imam Muslim (204-261H) Kitab : Shahih Muslim
3. Imam Abu Dawud (202-275H) Kitab : As-Sunan Abi Dawud
4. Imam At-Tirmidzi (209-279H) Kitab : As-Sunan At-Tirmidzi
5. Imam An-Nasa’i (215-303H) Kitab : As-Sunan An-Nasa’i
6. Imam Ibnu Majah (207-275H) Kitab : As-Sunan Ibnu Majah
7. Imam Malik bin Anas (90/93-169H) Kitab : Al-Muwatha’
8. Imam Asy Syafi’iy (150-204H) Kitab : Al Um
9. Imam Ahmad bin Hambal (164-241H) Kitab : Al Musnad Ahmad
10. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311H) Kitab : Shahih Ibnu Khuzaimah
11. Imam Ibnu Hibban (—-354H) Kitab : Shahih Ibnu Hibban
12. Imam Hakim (320-405H) Kitab : Al Mustadrak
13. Imam Ad-Daaruquthni (306-385H) Kitab : Sunan Daaruquthni
14. Imam Al-Baihaqiy (384-458H) Kitab : Sunan Al-Kubra
15. Imam Ad-Daarimi (181-255H) Kitabnya Sunan Ad-Daarimi
16. Imam Abu Dawud At-Thayaalisi (—-204H) Kitab: Musnad At-Thayalisi
17. Imam Al-Humaidiy (—219H) Kitab : Musnad Al-Humaidiy
18. Imam Ath-Thabrani (260-360H) Kitab : Mu’jam Al-Kabir, Mu’jam Al-Ausath, Mu’jam As-Shagir
19. Imam Abdurrazzaaq (126-211H) Kitab :Mushannaf Abdurrazzaaq
20. Imam Ibnu Abi Syaibah (—-235H) Kitab : Mushannaf Ibnu abi Syaibah
21. Imam Abdullah bin Ahmad (203-209H) Kitab : Az-Zawaaidul Musnad
22. Imam Ibnul Jaarud (—307H) Kitab : Al-Muntaqa
23. Imam At-Thahaawi (239-321H) Kitab : Syarah Ma’aanil Atsar, Musykilul Atsar
24. Imam Abu Ya’la (—307H) Kitab : Musnad Abu Ya’la
25. Imam Abu ‘awaanah (—316H) Kitab : Shahih Abu ‘Awaanah
26. Imam Said bin Manshur (—227H) Kitab : As Sunan Said bin Manshur
27. Imam Ibnu Sunniy (—364H) Kitab : ‘Amalul Yaum wal lailah
28. Imam Ibnu Abi ‘Ashim (—287H) Kitab : Kitabus Sunnah, Kitab Zuhud